Tags

, , , , , ,

Dikutip dari : Mengapa takut bersikap terbuka (John Powell)

Tom Moninka dan Dibyo kemarin selesai ujian semester. Mereka lelah. Dengan naik bus kedua anak itu menuju ke sebuah desa dekat pantwai untuk berlibur barang beberapa hari. Senang sekali mereka di sana, main-main dengan ombak, tidur dalam naungan pohon, dan minum air kelapa. Hari pertama terasa cepat berlalu, Matahari hampir terbenam. Sepi. Tenang. Hanya deburan ombak dan kicau burung yang kedengaran.

”Tom, untuk apa kita menghafalkan segala nama-nama binatang, species, dan segala tetek bengek itu? Ujian bagi saya seolah-olah sudah jauh. Saya sudah mulai lupa dengan apa yang telah kita hafal berminggu-minggu di luar kepala.”

”Bodohmu sendiri. Mengapa kau hafalkan semuanya itu?” jawab Dibyo

”Untuk lulus tentu saja”

”Saya benci belajar dengan menghafal. Saya coba mengerti dan mengetahui. Lalu tidak usah banyak hafal-hafalan.”

”Ah, vak kita tak menarik untuk cari pengertian. Saya mungkin pindah jurusan.”

”pindah? Lucu! Ke jurusan apa?”

”Saya mau pindah ke psikologi. Saya bosan dengan segala mempelajari tulang, usus, evolusi, spesies, dan sebagainya, dan sebagainya.”

”Lalu mau apa Tom?”

”Saya ingin tahu tentang manusia. Tentang jiwa saya dan kamu. Tentang diriku sebenarnya.”

”Itu terlalu sulit bagiku. Siapakah kita? Siapa tahu tentang saya? Tak seorangpun. Saya sendiripun nggak tahu.”

”Kamu kira ’saya’ atau ’diriku’ adalah boneka kecil dalam lubuk hatimu, ya? Tidak. Salah. Saya adalah untuk apa saya terlibat dan dalam apa saya melibatkan dirimu.

”Maaf saya tidak mengerti kamu.”

”Memang, kamu tidak cocok untuk psikologi. Kamu jadi dokter hewan saja. Tapi dengarlah, saya sungguh serius. Saya mengira, seorang atau lebih tepatnya pribadi seorang tidak terjadi begitu saja. Pribadi terus menjadi dan berkembang. Madsudku : Saya akan terus menjadi saya. Maka, saya tidak dapat dirumuskan. Kamu dapat memberi saya nama, tapi tidak dapat memasukkan saya ke dalam suatu golongan, lalu beres. Mengenal ’saya’ tidak sama seperti bila kita belajar tentang vertebrata, mamalia, reptilia, atau amphibia. Kamu dapat katakan” Tom itu mahasiswa, ia sehat, ia suka main badminton, pacaran dengan Ina, kikir, sering bolos. Betu;. Tapi ini semua bukanlah saya. Saya terus berubah. Saya dan kamu, kita semua unik.”

”Tom, saya kira mambang kuning matahari senja yang indah ini telah membuat kamu menjadi puitis. Kita sudah berteman sejak SMA, bagaimana mungkin tidak saling mengenal. Saya kenal kamu.”

”Apa yang kamu kenal? Kamu tahu apa yang saya pikirkan? Oke, kamu tahu berapa jauh saya hafal bahan-bahan ujian kemarin dulu. Kamu tahu pikiranku tentang orang politik yang bobrok. Kamu tahu hubunganku dengan bu Surya, Ibu Kosku itu. Oke, Apa lagi? Tahukah kamu bagaimana saya merasa, menilai, menghormati, mencinta, dan membenci? Tahukah kamu tentang cita-citaku, tentang keinginanku. Tentang keraguanku, tentang rasa takut dan kesepianku?”

”Sedikit,sedikit.”

”Memang sedikit saja. Sebab, kita selalu hanya bicara masalah kuliah, tentang bahan pelajaran, tentang PMKRI, tentang cewek. Tapi kapankah kita pernah bicara tentang isi hati kita?”

”Lho, jangan sentimentil….Tunggu dulu! Saya belum selesai. Memang, kamu benar. Kita jarang membicarakan diri kita. Itu saya akui.”

”Kalau saya menguraikan buah-buah pikiranku, kamu dapat menempatkan aku dalam golongan orang yang berpikir begini atau begitu. Katakan dalam kaum kiri dan kanan, kolot atau maju, pandai atau bodoh. Terserahlah! Tetapi dengan mengungkapkan suatu perasaanku kepadamu berarti saya bicara tentang saya sendiri.”

”Sayamalu bicara tentang perasaanku. Orang lain tentu tidak suka kalau saya mengungkapkan semua perasaanku: bahwa saya senang, malu, muak, atau tertarik. Lebih baik kita main sedikit sandiwara. Begitu kita tidak melukai hati orang-orang lain. Dan kita juga tidak.”

”Tapi kalau begitu, hubungan kita tetap dangkal saja, sedangkal air di pantai ini.”

”Tapi ini lebih aman!”

”buat apa kalau Cuma dangkal?”

”Asal aman!”

“Tapi kita tidak akan berkembang. Kita main sandiwara terus. Kalau begitu kita main peranan yang bukan peranan kita sendiri., pasang topeng dan bukan wajah kita sendiri. Dan tidak pernah menjadi diri kita sendiri. Maka kita tidak akan pernah bertemu. Mengertilah : kita, saya ini dan kamu Ini. Yang bertemu hanya dua mahasiswa, dua pemuda, Kita omong-omong tapi tidak mengatakan sesuatu pun. Dangkal, Sesungguhnya tidak bertemu.”

”Madsudku kalau kita main aman kita harus tinggal di belakang dinding yang tebal. Memang, lebih baik aman daripada beresiko cedera. Itulah harganya.”

”Harga yang terlalu mahal!”

”Mengapa?”

”Kalau setiap orang tinggal dalam benteng sendiri, tak ada komunikasi, tak ada tukar-menukar pengalaman atau perasaan. Macet semua.”

”Apa artinya komunikasimu itu?”

”Simpel saja: komunikasi atau communication yang kumadsudkan berarti mempunyai ’something in common’. Dengan komunikasi kita punya hal bersama. Setiap orang begitu banyak feelings, begitu banyak keinginan, begitu banyak yang bagus. Setiap hati itu kaya. Mengapa mau dikunci? Mengapa mau disimpan dalam bentengmu? Mengapa tidak kita bagi satu sama lain? Mengapa kita terus begitu menyendiri? Pasang topeng dan main sandiwara aneh?”

”Siapa tahu?”

”Saya sering memikirkan hal itu. Saya lihat antara ibu dan ayahku sendiri, antara saya dan kak Kim. Hubungan kita baik. Tapi jauh. Tidak ada komunikasi. Saya sering sedih. Pernah saya mulai dengan ibuku. Tapi ibu jadi gelisah. Ia hanya menjawab untuk menenangkan saya : ”Tak apa-apa” Dan bagi saya toh apa-apa. Malah banyak. Saya frustasi. Kata saya tak sampai.”

”Yah, macam ini sudah sering saya alami juga. Tapi saya katakan: mau apa? Terus terang saja: Saya takut mengatakan kepadamu siapakah saya ini.”

”Mengapa toh kita sahabat.”

”Dengarlah: Jika saya mengatkan kepadamu siapa saya ini sebenarnya, mungkin kamu tidak lagi suka kepada saya. Lalu, saya tidak punya apa-apa lagi yang dapat kuberikan.

”I see, Din. I see.”

”Look, kalau saya memperlihatkan diriku kepadamu secara telanjang, saya takut kamu membuat saya malu.”

”Tidak,tidak! Saya tahu, kalau kau menyerahkan rahasiamu kepadaku, kamu menyerahkan sebagian dari dirimu kepadaku. Tidak akan saya main-main denhgan ini!”

”Tapi, siapa yang dapat dipercaya? Kamu tahu: there is no secret.”

”Saya tak tahu. Tapi saya menyadari juga:Mengungkapkan diri secara jujur menuntut keberanian bukan main. Selalu ada resiko! Memang. Tapi pikirkanlah, resiko mana yang lebih besar: kadang-kadang dikecewakan karena keterbukaanmu disalahgunakan atau tidak berkembang karena mengunci diri dalam bentengmu yang aman?”

”Kenapa kalau mau aman tidak dapat berkembang?”

”Karena tanpa komunikasi yang sungguh dari hati ke hati, kepribadian kita tak dapat menjadi dewasa. Otak dapat berkembang, tapi kita tidak. Kamu masih ingat: ’Tak baik bagi manusia bahwa ia sendirian.”

”Ini dari Alkitab, tentang pencipataan pria dan wanita. Saya masih ingat.”

“Oke sabda ini berlaku lebih luas: Manusia hanya berkembang dan membina kepribadian dalam komunikasi dengan sesamanya. Maka mau tak mau kita harus dapat saling mempercayai. Kita perlu akan persahabatan, akan kepercayaan, akan kasih sayang…”

“Akur Tom…”

Kedua teman berdiam sebentar. Dalam kedua hati mereka ini muncul sesuatu yang baru berkat pertemuan di pantai yang sepi ini. Matahari sudah terbenam. Malam sudah setengah habis sebelum mereka tidur dalam kemah.

—–

Teman-teman, kedua sahabat itu benar. Bagaimana hubungan saudara sendiri dengan orang-orang dekat dengan saudara? Hanya dengan mengungkapkan diri sendiri lah saudara dapat mengerahui diri. Jalan untuk mengerti diri sediri harus lewat hati orang lain. Kita telah menciptakan demikian.

Maka yang kita – saudara dan saya – perlukan adalah saat yang tenang; waktu kita dapat bicara sari hati ke hati dengan orang yang kita percayai. Tanpa topeng, tanpa main sandiwara yang begitu sering dan begitu biasa kita pentaskan untuk menutup diri kita sendiri. Kadang-kadang kita perlu mengungkapkan diri sendiri, bertemu dengan sesama tanpa alasan segala ”perlindungan” yang telah kita pasang